Aku tak sakit mendengar semua ucapanmu terhadapku..
Kenapa aku mesti merasa sakit???
Sedangkan engkau telah membuka kerudung kemunafikan dalam diriku..
Justru akulah yang telah melukai jiwamu,,
Menorehkan luka dihatimu,,
Merobek-robek perasaanmu dengan kebusukan lisanku,,
Dan aku tidak tahu..
Dengan apa aku mesti menebus kesalahanku???
Akupun tidak bisa membela diriku..
Sebab apa yang harus aku bela!!?
Sedangkan semua ucapanmu benar adanya..
Ingin aku berikan senyumku kepadamu...
Tetapi aku sadar, bahwa senyum itu...
Hanyalah akan membuat engkau melihat kelicikanku !!!
Ingin ku tunjukkan wajah ceriaku kepadamu...
Tetapi aku sadar pula, bahwa bagimu...
Keceriaan wajah ini hanyalah bukti !!!
Semakin buruknya jiwaku...
Sebuah Pernyataan dan Isi Hati seorang Mardan..
Selasa, 22 Maret 2011
JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA
ketika pertama ku jumpa dengan mu,,
bukan kah pernah ku tanyakan pada mu..kasih!!!
takkan kecewa kah kepada diriku,,
tak kan menyesalkah kau hidup dengan ku..nanti???
memang kau bukan yang pertama bagiku,,
pernah satu hati mengisi hidupku..dulu!!!
dan kini semua kau katakan pada ku,
jangan ada dusta diantara kita..kasih!!!
semua terserah pada mu..aku begini adanya!!?
ku hormati keputusan mu,,apa pun yang akan kau katakan??!
sebelum terlanjur..kita jauh melangkah!!
kau katakan saja.....
bukan kah pernah ku tanyakan pada mu..kasih!!!
takkan kecewa kah kepada diriku,,
tak kan menyesalkah kau hidup dengan ku..nanti???
memang kau bukan yang pertama bagiku,,
pernah satu hati mengisi hidupku..dulu!!!
dan kini semua kau katakan pada ku,
jangan ada dusta diantara kita..kasih!!!
semua terserah pada mu..aku begini adanya!!?
ku hormati keputusan mu,,apa pun yang akan kau katakan??!
sebelum terlanjur..kita jauh melangkah!!
kau katakan saja.....
Minggu, 06 Maret 2011
satu menit !
sejemak kadang aku berfikir!!!
masih layak kah aku untuk di cinta?
masih layak kah aku berbahagia?
masih layak kah aku masuk surga?
setelah aku mengotorihidup ku sendiri !
setelah aku melempar melempar kotoran kemuka ku sendiri !
setelah aku membuat dosa yang kadang orang fikir indah, tapi petaka !
hina kah aku ?
kejam kah aku ?
jahat kah aku?
kasihan kamu, kamu dan kamu !
yang telah tulus sayangi ku..
cintai ku..
lindungi ku..
kasihan kamu !
mengasihani aku yang tak pantas dikasihani..
air mata, jiwa atau pun raga..
tak kan mampu menebus segala apa yang kau, kau dan kau beri pada ku !
ini kah bentuk janji ku ya Robb..
sebelum Kau tiupkan Ruh dalam kandungan bunda ku !
bisa kah aku mengingkari janji ku ya Robb?
untuk bisa memperbaiki hidupku,
untuk bisa sebenar-benarnya berIman pada-Mu,
hingga layak masuk ke Surga-Mu !?
Astagfirullah...
masih layak kah aku untuk di cinta?
masih layak kah aku berbahagia?
masih layak kah aku masuk surga?
setelah aku mengotorihidup ku sendiri !
setelah aku melempar melempar kotoran kemuka ku sendiri !
setelah aku membuat dosa yang kadang orang fikir indah, tapi petaka !
hina kah aku ?
kejam kah aku ?
jahat kah aku?
kasihan kamu, kamu dan kamu !
yang telah tulus sayangi ku..
cintai ku..
lindungi ku..
kasihan kamu !
mengasihani aku yang tak pantas dikasihani..
air mata, jiwa atau pun raga..
tak kan mampu menebus segala apa yang kau, kau dan kau beri pada ku !
ini kah bentuk janji ku ya Robb..
sebelum Kau tiupkan Ruh dalam kandungan bunda ku !
bisa kah aku mengingkari janji ku ya Robb?
untuk bisa memperbaiki hidupku,
untuk bisa sebenar-benarnya berIman pada-Mu,
hingga layak masuk ke Surga-Mu !?
Astagfirullah...
Minggu, 02 Januari 2011
Komentar..
Melihat sesuatu, lalu komentar. Mendengar sesuatu, lalu berkomentar. Membaca sesuatu, lalu berkomentar. Kita adalah “Si Tukang Komentar”. Pernahkah kita memikirkan betapa banyaknya kita berkomentar?
Seringkali kita terlalu sibuk berkomentar, tanpa mengerti ada apa yang terjadi sepenuhnya, di balik hal yang sedang atau sudah terjadi. Terkadang kita tergoda berkomentar hanya agar berkesan pintar, supaya kita ‘tampil’ dalam sebuah topik pembicaraan. Seringkali komentar dibuat sekedar membuat seru sebuah situasi, agar mendapatkan perhatian pihak lainnya maupun pihak yang dikomentari. Sering juga sebuah komentar terkesan pintar dari segi teori namun tidak ada kaitannya dengan topik, akhirnya komentar berputar-putar disekitar teori dan melebar tanpa jelas apa kaitannya. Ada juga komentar yang mempermasalahkan suatu hal, yang justru sudah dibahas sebagai substansi topik yang disajikan. Akhirnya komentar yang begitu semangatnya disampaikan (tidak jarang disertai sebuah teori) akhirnya menjadi tidak efektif karena hal yang disampaikan sudah dibahas dalam topik yang disampaikan. Kita juga sering membuat komentar agar bisa menarik perhatian orang lain. Akui saja, komentar-komentar yang terkesan seru, jadi sering ditanggapi orang lain. Dengan demikian komentar kita yang sifatnya membuat seru atau panas suasana menjadi sorotan, begitupun kita. Dan kita menikmati sorotan tersebut. Tidak jarang, kita sibuk berkomentar negatif terhadap pencapaian orang lain, tanpa menyadari bahwa diri kitapun tidak atau bahkan belum bisa mencapai apa yang sudah dicapai orang tersebut. Komentar kita, terkadang dapat merupakan cermin kecemburuan atas inkompetensi dalam diri.
“Membuat komentar juga akan lebih baik jika menggunakan nurani, bukan hanya dengan logika. Menggunakan keduanya akan membuat komentar kita menjadi lebih mudah diterima dan dimengerti baik dari segi pikiran maupun hati”
Tidak semua komentar berkesan asal komentar, namun, tidak banyak komentar yang konstruktif. Komentar yang konstruktif jelas kaitannya dengan topik, hingga menjadikannya relevan. Mungkin ini yang sebenarnya harus kita pelajari. Mungkin ini yang perlu kita latih dalam keseharian. Membuat komentar yang cerdas, bukan sekedar agar berkesan pintar. Cerdas, yaitu bijak, namun tidak self righteous (merasa paling benar).
Membuat komentar juga akan lebih baik jika menggunakan nurani, bukan hanya dengan logika. Menggunakan keduanya akan membuat komentar kita menjadi lebih mudah diterima dan dimengerti baik dari segi pikiran maupun hati.
Ada komentar yang dibuat dengan tujuan agar membuat bertambah seru, terkadang membuat suasana panas atau bahkan bisa kacaunya sebuah topik. Motif dari komentar ini bermacam-macam. Mulai dari sekedar iseng, sampai demi mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Jika itu tidak menganggu berjalannya topik mungkin masih tidak masalah, namun jika itu menganggu berjalannya topik, apalagi hingga menyakiti pihak lain, maka hal tersebut akan berpotensi menjadi masalah.
Selain itu, komentar atas ketidaksetujuan terhadap suatu hal, tidak harus disampaikan dengan cara menyakiti pihak lain. Jika kita tidak menyetujui sesuatu, kita tidak harus menyampaikan dengan kata-kata kasar, sindiran, cemoohan hingga menyakiti pihak lain. Ketidaksetujuan kita terhadap suatu hal tidak berarti harus diiringi dengan menyakiti pihak lain yang kita komentari. Jika komentar kita ingin agar diterima pihak lain, tentunya kita akan berusaha menyampaikan komentar tanpa mencela pihak lain. Begitupun jika diri kita diberi komentar oleh orang lain, tentunya kita berharap agar komentar tersebut bisa kita terima dengan baik bukan? Tidak ada satu orangpun didunia ini yang suka mendengar kata kasar, cemoohan dan sindiran. Apakah kita akan menerima dengan baik komentar terhadap diri kita jika pihak lain menyampaikannya dengan cela dan cemoohon atau berkata kasar? Tentu kita akan sulit menerimanya. Pada dasarnya kita tidak menyukai komentar dengan kata kasar, atau komentar penuh penghakiman jika itu ditujukan kepada diri kita. Jika kita tidak menghendaki hal tersebut kepada diri kita, tentu seharusnya kita tidak melakukan terhadap orang lain bukan? Kita akan lebih merasa nyaman dan menghargai komentar yang sopan, komentar yang objektif, tidak mencela.
Hal yang penting sebelum berkomentar adalah menyimak secara mendalam apa topik yang sedang disampaikan. Sering sekali mispersepsi terjadi, lagi-lagi karena ketidakmampuan kita untuk menyimak secara mendalam, hingga mengerti sebuah topik. Akhirnya komentar kita tidak relevan dengan topik maupun dengan nilai saling menghormati maupun saling menghargai. Komentar yang baik bersifat konstruktif, dan bisa memberikan sebuah perspektif yang segar terhadap sebuah topik.
Hal yang penting juga saat berkomentar adalah penggunaan bahasa yang baik. Selama kita tidak mengenal seseorang secara pribadi, secara dekat, sebaiknya penggunaan bahasa tetap menggunakan bahasa formal. Formal tidak harus terkesan kaku. Kita juga tetap bisa kasual namun tetap sopan. Seringkali kita melihat komentar di internet menggunakan bahasa yang tidak sopan atau bahkan dengan bahasa kasar penuh dengan kemarahan dan rasa tidak hormat. Kalau begitu, kita kembali ke pribadi masing-masing, jangan-jangan kita sebetulnya punya kemarahan yang tidak tersalurkan, yang kita salurkan kepada pihak lain saat kita berkomentar. Berhati-hatilah terhadap apa yang kita rasa. Ketidaksetujuan tidak harus disampaikan dengan penuh kekerasan dan kekasaran. Sampaikanlah dengan bahasa yang lembut. Kesopanan berbahasa diciptakan agar kita bisa hidup saling menerima.
Bahasa yang kita pakai kepada teman dekat, tidak relevan jika kita pakai kepada seseorang yang tidak kita kenal secara dekat. Seringkali kita lihat komentar-komentar di internet (di berbagai situs dan blog seperti Facebook, Twitter dan lainnya) menggunakan bahasa yang sebetulnya bukan untuk umum. Mulai dari singkatan yang tidak dimengerti, expression (kata-kata untuk menggambarkan ekspresi), lalu kata-kata yang sudah di ubah-ubah ejaannya (misalnya kata “mau” menjadi “mao”). Kita mungkin bisa memakai kata-kata tersebut kepada teman dekat, tapi kepada orang lain sebaiknya tetap menggunakan bahasa formal walaupun kasual. Salah menggunakan kata-kata bisa membuat orang lain jengah untuk menerimanya karena berkesan tidak sopan, tidak memiliki unsur menghormati dan menghargai. Selain itu, pemakaian kata-kata yang sudah diubah ejaannya seperti yang disebut barusan seringkali membingungkan yang membacanya. Yang membaca belum tentu mengerti bahasa atau kata tersebut (walaupun bahasa Indonesia sekalipun) atau berbagai singkatan model baru. Bagaimanapun, pemakaian bahasa, mencerminkan bagaimana kita menghargai dan menghormati orang lain. Pakailah bahasa kesopanan yang benar-benar umum (walaupun tidak harus menjadi kaku), bukan bahasa slank, jika kita berkomentar dengan orang yang tidak kita kenal dekat sekali. Kesopanan yang diajarkan saat kita masih kecil, salah satunya yaitu dalam pemakaian bahasa. Dengan pemakaian bahasa yang baik, maka kita ikut menghargai orang lain yang ikut membaca atau mendengar komentar kita dan dengan demikian, komentar kitapun semakin mudah diterima dan dimengerti pihak lain. Ini adalah kondisi yang menyenangkan dan nyaman bagi kita semua. Tidak ada yang merasa tidak dihargai oleh adanya kesopanan.
Hal yang terakhir yang perlu kita pertimbangkan: apakah komentar kita penting? Apakah kita perlu selalu berkomentar? Mungkin juga ada saatnya dimana lebih baik jika kita menyimak dan mengerti secara mendalam topik yang sedang ada dipikiran kita dan mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari topik tersebut.
Mau Komentar?
Pikirkan kembali.
Seringkali kita terlalu sibuk berkomentar, tanpa mengerti ada apa yang terjadi sepenuhnya, di balik hal yang sedang atau sudah terjadi. Terkadang kita tergoda berkomentar hanya agar berkesan pintar, supaya kita ‘tampil’ dalam sebuah topik pembicaraan. Seringkali komentar dibuat sekedar membuat seru sebuah situasi, agar mendapatkan perhatian pihak lainnya maupun pihak yang dikomentari. Sering juga sebuah komentar terkesan pintar dari segi teori namun tidak ada kaitannya dengan topik, akhirnya komentar berputar-putar disekitar teori dan melebar tanpa jelas apa kaitannya. Ada juga komentar yang mempermasalahkan suatu hal, yang justru sudah dibahas sebagai substansi topik yang disajikan. Akhirnya komentar yang begitu semangatnya disampaikan (tidak jarang disertai sebuah teori) akhirnya menjadi tidak efektif karena hal yang disampaikan sudah dibahas dalam topik yang disampaikan. Kita juga sering membuat komentar agar bisa menarik perhatian orang lain. Akui saja, komentar-komentar yang terkesan seru, jadi sering ditanggapi orang lain. Dengan demikian komentar kita yang sifatnya membuat seru atau panas suasana menjadi sorotan, begitupun kita. Dan kita menikmati sorotan tersebut. Tidak jarang, kita sibuk berkomentar negatif terhadap pencapaian orang lain, tanpa menyadari bahwa diri kitapun tidak atau bahkan belum bisa mencapai apa yang sudah dicapai orang tersebut. Komentar kita, terkadang dapat merupakan cermin kecemburuan atas inkompetensi dalam diri.
“Membuat komentar juga akan lebih baik jika menggunakan nurani, bukan hanya dengan logika. Menggunakan keduanya akan membuat komentar kita menjadi lebih mudah diterima dan dimengerti baik dari segi pikiran maupun hati”
Tidak semua komentar berkesan asal komentar, namun, tidak banyak komentar yang konstruktif. Komentar yang konstruktif jelas kaitannya dengan topik, hingga menjadikannya relevan. Mungkin ini yang sebenarnya harus kita pelajari. Mungkin ini yang perlu kita latih dalam keseharian. Membuat komentar yang cerdas, bukan sekedar agar berkesan pintar. Cerdas, yaitu bijak, namun tidak self righteous (merasa paling benar).
Membuat komentar juga akan lebih baik jika menggunakan nurani, bukan hanya dengan logika. Menggunakan keduanya akan membuat komentar kita menjadi lebih mudah diterima dan dimengerti baik dari segi pikiran maupun hati.
Ada komentar yang dibuat dengan tujuan agar membuat bertambah seru, terkadang membuat suasana panas atau bahkan bisa kacaunya sebuah topik. Motif dari komentar ini bermacam-macam. Mulai dari sekedar iseng, sampai demi mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Jika itu tidak menganggu berjalannya topik mungkin masih tidak masalah, namun jika itu menganggu berjalannya topik, apalagi hingga menyakiti pihak lain, maka hal tersebut akan berpotensi menjadi masalah.
Selain itu, komentar atas ketidaksetujuan terhadap suatu hal, tidak harus disampaikan dengan cara menyakiti pihak lain. Jika kita tidak menyetujui sesuatu, kita tidak harus menyampaikan dengan kata-kata kasar, sindiran, cemoohan hingga menyakiti pihak lain. Ketidaksetujuan kita terhadap suatu hal tidak berarti harus diiringi dengan menyakiti pihak lain yang kita komentari. Jika komentar kita ingin agar diterima pihak lain, tentunya kita akan berusaha menyampaikan komentar tanpa mencela pihak lain. Begitupun jika diri kita diberi komentar oleh orang lain, tentunya kita berharap agar komentar tersebut bisa kita terima dengan baik bukan? Tidak ada satu orangpun didunia ini yang suka mendengar kata kasar, cemoohan dan sindiran. Apakah kita akan menerima dengan baik komentar terhadap diri kita jika pihak lain menyampaikannya dengan cela dan cemoohon atau berkata kasar? Tentu kita akan sulit menerimanya. Pada dasarnya kita tidak menyukai komentar dengan kata kasar, atau komentar penuh penghakiman jika itu ditujukan kepada diri kita. Jika kita tidak menghendaki hal tersebut kepada diri kita, tentu seharusnya kita tidak melakukan terhadap orang lain bukan? Kita akan lebih merasa nyaman dan menghargai komentar yang sopan, komentar yang objektif, tidak mencela.
Hal yang penting sebelum berkomentar adalah menyimak secara mendalam apa topik yang sedang disampaikan. Sering sekali mispersepsi terjadi, lagi-lagi karena ketidakmampuan kita untuk menyimak secara mendalam, hingga mengerti sebuah topik. Akhirnya komentar kita tidak relevan dengan topik maupun dengan nilai saling menghormati maupun saling menghargai. Komentar yang baik bersifat konstruktif, dan bisa memberikan sebuah perspektif yang segar terhadap sebuah topik.
Hal yang penting juga saat berkomentar adalah penggunaan bahasa yang baik. Selama kita tidak mengenal seseorang secara pribadi, secara dekat, sebaiknya penggunaan bahasa tetap menggunakan bahasa formal. Formal tidak harus terkesan kaku. Kita juga tetap bisa kasual namun tetap sopan. Seringkali kita melihat komentar di internet menggunakan bahasa yang tidak sopan atau bahkan dengan bahasa kasar penuh dengan kemarahan dan rasa tidak hormat. Kalau begitu, kita kembali ke pribadi masing-masing, jangan-jangan kita sebetulnya punya kemarahan yang tidak tersalurkan, yang kita salurkan kepada pihak lain saat kita berkomentar. Berhati-hatilah terhadap apa yang kita rasa. Ketidaksetujuan tidak harus disampaikan dengan penuh kekerasan dan kekasaran. Sampaikanlah dengan bahasa yang lembut. Kesopanan berbahasa diciptakan agar kita bisa hidup saling menerima.
Bahasa yang kita pakai kepada teman dekat, tidak relevan jika kita pakai kepada seseorang yang tidak kita kenal secara dekat. Seringkali kita lihat komentar-komentar di internet (di berbagai situs dan blog seperti Facebook, Twitter dan lainnya) menggunakan bahasa yang sebetulnya bukan untuk umum. Mulai dari singkatan yang tidak dimengerti, expression (kata-kata untuk menggambarkan ekspresi), lalu kata-kata yang sudah di ubah-ubah ejaannya (misalnya kata “mau” menjadi “mao”). Kita mungkin bisa memakai kata-kata tersebut kepada teman dekat, tapi kepada orang lain sebaiknya tetap menggunakan bahasa formal walaupun kasual. Salah menggunakan kata-kata bisa membuat orang lain jengah untuk menerimanya karena berkesan tidak sopan, tidak memiliki unsur menghormati dan menghargai. Selain itu, pemakaian kata-kata yang sudah diubah ejaannya seperti yang disebut barusan seringkali membingungkan yang membacanya. Yang membaca belum tentu mengerti bahasa atau kata tersebut (walaupun bahasa Indonesia sekalipun) atau berbagai singkatan model baru. Bagaimanapun, pemakaian bahasa, mencerminkan bagaimana kita menghargai dan menghormati orang lain. Pakailah bahasa kesopanan yang benar-benar umum (walaupun tidak harus menjadi kaku), bukan bahasa slank, jika kita berkomentar dengan orang yang tidak kita kenal dekat sekali. Kesopanan yang diajarkan saat kita masih kecil, salah satunya yaitu dalam pemakaian bahasa. Dengan pemakaian bahasa yang baik, maka kita ikut menghargai orang lain yang ikut membaca atau mendengar komentar kita dan dengan demikian, komentar kitapun semakin mudah diterima dan dimengerti pihak lain. Ini adalah kondisi yang menyenangkan dan nyaman bagi kita semua. Tidak ada yang merasa tidak dihargai oleh adanya kesopanan.
Hal yang terakhir yang perlu kita pertimbangkan: apakah komentar kita penting? Apakah kita perlu selalu berkomentar? Mungkin juga ada saatnya dimana lebih baik jika kita menyimak dan mengerti secara mendalam topik yang sedang ada dipikiran kita dan mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari topik tersebut.
Mau Komentar?
Pikirkan kembali.
Sedikit Harapan..
Ya Allah..
Jika kau Halal kan aku merindui kekasih ku..
Maka jangan biarkan aku melampaui batas !!!
Sehingga melupakan aku pada cinta yang hakiki
dan rindu abadi kepada-Mu..
Ya Allah..
Jika kau Ikhlas kan aku mencintai kekasih mu..
Maka jangan biarkan aku terperangah sejenak !!!
Sehingga menjerumuskan aku pada kasih yang mulia
dan cinta yang sesungguhnya kepada-Mu...
Ya Allah..
Jika memang dia jodoh ku, maka dekatkan dan halalkan lah!!!
tapi..
jika dia bukan terbaik untuk ku, maka jauhkan dan haramkan lah!!!
Biar aku Ikhlas bahwa ini adalah hukum-Mu yang sebenarnya...
Jika kau Halal kan aku merindui kekasih ku..
Maka jangan biarkan aku melampaui batas !!!
Sehingga melupakan aku pada cinta yang hakiki
dan rindu abadi kepada-Mu..
Ya Allah..
Jika kau Ikhlas kan aku mencintai kekasih mu..
Maka jangan biarkan aku terperangah sejenak !!!
Sehingga menjerumuskan aku pada kasih yang mulia
dan cinta yang sesungguhnya kepada-Mu...
Ya Allah..
Jika memang dia jodoh ku, maka dekatkan dan halalkan lah!!!
tapi..
jika dia bukan terbaik untuk ku, maka jauhkan dan haramkan lah!!!
Biar aku Ikhlas bahwa ini adalah hukum-Mu yang sebenarnya...
Sabtu, 01 Januari 2011
cinta adalah satu konsekuansi,,,
dimana kita belajar untuk mencintai kekurangan pasangan...
jangan hanya cinta dari kelebihannya saja !!!
cinta adalah satu konsekuensi,,,
dimana kita harus siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi pada cinta...
jangan cuma hanya siap untuk sesuatu yang terbaiknya saja !!!
jadi...
cinta adalah satu pertanyaan...
apakah anda siap untuk mencintai kekurangan pasangan...???
dan...
siap untuk menghadapi hal terburuk,,,
yang ungkin terjadi pada cinta???
dimana kita belajar untuk mencintai kekurangan pasangan...
jangan hanya cinta dari kelebihannya saja !!!
cinta adalah satu konsekuensi,,,
dimana kita harus siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi pada cinta...
jangan cuma hanya siap untuk sesuatu yang terbaiknya saja !!!
jadi...
cinta adalah satu pertanyaan...
apakah anda siap untuk mencintai kekurangan pasangan...???
dan...
siap untuk menghadapi hal terburuk,,,
yang ungkin terjadi pada cinta???
Kamis, 30 Desember 2010
Ingin ku !
ingin ku..
bukan buat di cintai tuk disakiti..
tapi..
mencari setitik kedamaian, keabadian
dan secercah harapan menuju kehidupan yang lebih baik..
adakah disana, sesosok malaikat yang baik hati
mau terima ku, bahagiakan ku, dampingiku,
adakah disana, sesosok jiwa mulia
mau perhatikanku, mengeri aku, menuntunku,
adakah disana, pahlawan tanpa topeng
damaikan hiduku, melindungiku, meminjamkan bahunya
sejenak tuk bersandar mendengar keluh kesah ku
adakah disana, seorang imam bagiku
membimbingku kesurga, bersama !
segala tanya ku, hanya yang mau terima ku
kekurangan ku, adanya aku !
dan bukan kamu
wahai pemain cinta yang tersakiti oleh cinta
dan bukan kamu yang kehilangan cinta
yang tak mau terima garis takdir yg kau janjikan kepada Tuhan mu
dan bukan kamu,
para pecundang, banci,
dan bukan kamu pula
ahli neraka!
tapi kamu, cinta ku apa adanya !!!
bukan buat di cintai tuk disakiti..
tapi..
mencari setitik kedamaian, keabadian
dan secercah harapan menuju kehidupan yang lebih baik..
adakah disana, sesosok malaikat yang baik hati
mau terima ku, bahagiakan ku, dampingiku,
adakah disana, sesosok jiwa mulia
mau perhatikanku, mengeri aku, menuntunku,
adakah disana, pahlawan tanpa topeng
damaikan hiduku, melindungiku, meminjamkan bahunya
sejenak tuk bersandar mendengar keluh kesah ku
adakah disana, seorang imam bagiku
membimbingku kesurga, bersama !
segala tanya ku, hanya yang mau terima ku
kekurangan ku, adanya aku !
dan bukan kamu
wahai pemain cinta yang tersakiti oleh cinta
dan bukan kamu yang kehilangan cinta
yang tak mau terima garis takdir yg kau janjikan kepada Tuhan mu
dan bukan kamu,
para pecundang, banci,
dan bukan kamu pula
ahli neraka!
tapi kamu, cinta ku apa adanya !!!
Langganan:
Komentar (Atom)